Redaksi dan tinjauan: Tim Redaksi Kalkuzon
Kalkulator PPh 23 (2026): Tarif 2% & 15%
Hitung perkiraan potongan PPh Pasal 23 dari penghasilan bruto: tarif 2% untuk sewa & jasa, atau 15% untuk dividen, bunga, royalti, dan hadiah. Tanpa NPWP, tarifnya dipotong 100% lebih tinggi.
- Sumber: data resmi pemerintah
- Terakhir diverifikasi 11 Juni 2026
- Data Anda tidak dikirim — semua dihitung di browser Anda
Kalkulator
Masukan
Pilih kelompok objek PPh 23 sesuai penghasilan yang dibayarkan.
Nilai penghasilan sebelum dipotong PPh 23.
Tanpa NPWP, tarif PPh 23 dipotong 100% lebih tinggi.
Rincian
Perkiraan PPh 23 yang dipotong
Rp200.000
- Objek PPh 23
- Sewa & jasa (2%)
- Status NPWP penerima
- Punya NPWP
- Tarif yang dipakai
- 2%
Karena penerima memiliki NPWP, tarif 2% dipakai apa adanya. Pemotong wajib menerbitkan bukti potong PPh 23 atas potongan ini.
Angka ini perkiraan untuk perencanaan, mengikuti tarif PPh Pasal 23 (UU PPh). Sebagian jasa memiliki dasar pengenaan khusus dan ada objek yang dikecualikan menurut PMK; pemotongan, penyetoran, dan pelaporan resmi mengikuti ketentuan DJP.
Jawaban langsung
Kalkulator ini memperkirakan potongan PPh Pasal 23 dengan rumus PPh 23 = tarif × penghasilan bruto. Tarif dasarnya 2% untuk sewa (selain tanah/bangunan) dan imbalan jasa, serta 15% untuk dividen, bunga, royalti, dan hadiah; tanpa NPWP tarif dipotong 100% lebih tinggi (menjadi 4% atau 30%), sesuai UU PPh Pasal 23 yang dirujuk DJP (pajak.go.id).
| Item | Nilai |
|---|---|
| Tarif sewa (selain tanah/bangunan) & jasa | 2% |
| Tarif dividen, bunga, royalti, hadiah | 15% |
| Tanpa NPWP: sewa & jasa | 4% |
| Tanpa NPWP: dividen, bunga, royalti, hadiah | 30% |
| Dasar pengenaan | Jumlah bruto sebelum dipotong |
Apa yang dihitung kalkulator ini
Kalkulator ini menghitung perkiraan PPh Pasal 23 yang dipotong dari sebuah pembayaran. Anda memilih jenis penghasilan, mengisi nilai bruto, dan menentukan status NPWP penerima. Hasilnya menampilkan PPh 23 yang dipotong, penghasilan yang diterima bersih setelah potongan, serta tarif yang dipakai.
PPh Pasal 23 adalah pajak yang dipotong oleh pihak pemberi penghasilan — umumnya Wajib Pajak badan seperti PT, CV, instansi pemerintah, atau penyelenggara kegiatan — saat membayar penghasilan tertentu kepada pihak lain. Jadi yang menyetor pajak ke negara adalah pemotong, sedangkan penerima menerima jumlah yang sudah dipotong beserta bukti potong. Hasil kalkulator ini adalah estimasi untuk perencanaan, bukan angka final yang menggantikan pemotongan dan pelaporan resmi di DJP.
Rumus dan sumber tarifnya
PPh Pasal 23 dihitung sederhana: tarif dikalikan penghasilan bruto sebelum dipotong.
PPh 23 = tarif × penghasilan bruto
Diterima bersih = penghasilan bruto − PPh 23
tarif = tarif dasar (jika penerima punya NPWP)
tarif = tarif dasar × 2 (jika penerima tidak punya NPWP)
Tarif dasarnya bergantung pada objek penghasilan, sesuai UU PPh Pasal 23 (UU 36/2008 jo. UU HPP):
- Tarif 2% atas sewa dan penghasilan lain atas penggunaan harta selain tanah/bangunan, serta imbalan jasa — antara lain jasa teknik, manajemen, konstruksi, konsultan, dan jasa lain yang dirinci dalam PMK.
- Tarif 15% atas dividen, bunga, royalti, serta hadiah dan penghargaan selain yang sudah dipotong PPh Pasal 21.
- Tanpa NPWP, tarif dipotong 100% lebih tinggi: 2% menjadi 4% dan 15% menjadi 30%.
Dasar pengenaan adalah jumlah bruto penghasilan. Rujukan resmi tersedia di DJP melalui pajak.go.id, dengan dasar hukum UU 36/2008 (UU PPh) Pasal 23 sebagaimana diubah oleh UU 7/2021 (UU HPP). Untuk sebagian jasa, dasar pengenaan 2% mengikuti aturan bruto tertentu sesuai PMK tentang jasa lain.
Cara mengisi kolomnya
- Jenis penghasilan: pilih Sewa & jasa (2%) untuk sewa selain tanah/bangunan dan imbalan jasa, atau Dividen, bunga, royalti, hadiah (15%) untuk penghasilan modal dan hadiah. Pilihan ini menentukan tarif dasar.
- Penghasilan bruto: isi nilai penghasilan sebelum dipotong PPh 23. Untuk jasa, gunakan nilai imbalan jasa sesuai ketentuan dasar pengenaannya.
- Status NPWP penerima: pilih Punya NPWP atau Tidak punya NPWP. Tanpa NPWP, tarif otomatis dinaikkan 100%.
Contoh perhitungan
1. Jasa konsultan, bruto Rp10.000.000, penerima punya NPWP. Objek masuk kelompok 2%. PPh 23 = 2% × Rp10.000.000 = Rp200.000. Diterima bersih = Rp10.000.000 − Rp200.000 = Rp9.800.000.
2. Dividen, bruto Rp50.000.000, penerima punya NPWP. Objek masuk kelompok 15%. PPh 23 = 15% × Rp50.000.000 = Rp7.500.000. Diterima bersih = Rp42.500.000.
3. Jasa, bruto Rp10.000.000, penerima tanpa NPWP. Tarif dasar 2% dinaikkan 100% menjadi 4%. PPh 23 = 4% × Rp10.000.000 = Rp400.000. Diterima bersih = Rp9.600.000. Bandingkan dengan contoh 1: selisih potongan Rp200.000 muncul hanya karena penerima belum punya NPWP.
4. Dividen, bruto Rp50.000.000, penerima tanpa NPWP. Tarif 15% menjadi 30%. PPh 23 = 30% × Rp50.000.000 = Rp15.000.000. Diterima bersih = Rp35.000.000 — separuh dari potongan ini terjadi semata karena tidak ada NPWP.
Kesalahan umum
- Mengira penerima yang menyetor pajak. Yang memotong dan menyetor PPh 23 adalah pemberi penghasilan (umumnya badan). Penerima cukup menerima jumlah bersih dan menyimpan bukti potong.
- Salah memilih objek 2% vs 15%. Sewa selain tanah/bangunan dan jasa kena 2%; dividen, bunga, royalti, hadiah kena 15%. Sewa tanah/bangunan justru bukan objek Pasal 23 (diatur dengan PPh final Pasal 4 ayat 2), jadi jangan dicampur.
- Lupa efek tanpa NPWP. Tanpa NPWP, tarif 100% lebih tinggi (2%→4%, 15%→30%). Memiliki NPWP membuat potongan kembali normal.
- Mengira PPh 23 bersifat final. Bagi penerima, PPh 23 umumnya bukan final dan dapat dikreditkan di SPT Tahunan dengan bukti potong. Karena itu simpan setiap bukti potong.
- Menyamakannya dengan PPh Pasal 21. PPh 21 dipotong atas penghasilan orang pribadi sehubungan dengan pekerjaan (misalnya gaji); PPh 23 menyasar dividen, bunga, royalti, hadiah, sewa, dan jasa.
Catatan: angka pada halaman ini bersifat estimasi dan bukan nasihat pajak untuk kasus tertentu. Untuk dasar pengenaan jasa tertentu, objek yang dikecualikan, serta tata cara penyetoran dan pelaporan, periksa pajak.go.id atau konsultasikan dengan konsultan pajak.
Kalkulator terkait
Kalkuzon menyediakan kalkulator pajak untuk Indonesia, selalu dengan sumber resmi yang dicantumkan:
- Kalkulator PPh Final UMKM 0,5% — pajak final 0,5% atas omzet usaha (PP 55/2022).
- Kalkulator PPh 21 — potongan PPh 21 atas penghasilan karyawan.
- Kalkulator PPN — hitung PPN atas harga barang atau jasa.
Anda juga bisa membaca panduan di blog dan melihat cara kami memverifikasi setiap angka di halaman Tentang.
Pertanyaan yang sering diajukan
Pertanyaan paling umum tentang cara kerja kalkulator ini dan dari mana angkanya berasal.
Kalkulator terkait
Kalkulator lain dengan tema serupa atau yang biasa dipakai bersama.
Kalkulator PPh 21 TER & Progresif (2026)
Hitung PPh 21 dua metode: tarif efektif rata-rata (TER) bulanan PP 58/2023 dan tarif progresif tahunan Pasal 17, sesuai status PTKP — tarif resmi DJP 2026.
BukaKalkulator PPh Final UMKM 0,5% (2026)
Cara menghitung PPh final UMKM 0,5% (PP 55/2022) per bulan dan per tahun — otomatis memperhitungkan omzet bebas pajak Rp500 juta untuk orang pribadi.
BukaKalkulator PPN 2026: Tarif Efektif 11% & 12%
Perhitungan PPN tahun 2026: tarif efektif 11% (barang umum) dan 12% (barang mewah) sesuai PMK 131/2024 — tambah PPN ke harga atau keluarkan dari harga total.
BukaKalkulator Pajak Kendaraan (2026)
Perkirakan pajak kendaraan tahunan: PKB pokok, opsen 66%, dan SWDKLLJ untuk motor atau mobil. Mendukung tarif DKI Jakarta dan provinsi lain (UU HKPD).
Buka